WIPA, kekayaan proses STBM di desa terpencil

Senin 8 Juli 2013. Hari itu saya bersama Yustinus Harefa (FP) kembali ke desa Hilibanua untuk monitoring ke-17 kk tersebut. Dalam monitoring kali ini kami mengajak anak, Yusril Wirpan Lahagu -yang biasa dipanggil ‘Wipa’. Wipa, wakil anak Wahana Visi Indonesia, 9 tahun, adalah anak dari Tandrombowo Lahagu (Ama Rea Lahagu), ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1 dusun 1 Desa Hilibanua Kecamatan Namohalu Esiwa Kabupaten Nias Utara.

Setelah Wipa pulang dari sekolah (kelas 5 di SDN Hilibanua 071167), kami mengajak Wipa untuk monitoring hasil pemicuan stop BABS. “Kita mau monitoring WC, nanti coba Wipa yang fotoin WC-WCnya ya?”, kataku sambil menyerahkan kamera kepadanya. “Oke bang,” sahut Wipa penuh semangat.

Kami pun bergerak dari dusun 1 ke dusun 2. Selama monitoring berlangsung, kami menemukan banyak hal. Ada yang sudah selesai membangun WC, ada yang sudah dimulai tetapi belum selesai. Ada juga yang belum dimulai sama sekali, dengan berbagai penjelasan. Wipa melihat dan memfoto semua WC yang ada secara lengkap – tampak luar dan tampak dalam.

Setelah monitoring WC sepanjang siang di dusun 2, kami kembali dan berkumpul ke rumah Wipa di dusun 1. “Gimana rasanya jadi tukang foto? Hehee,” tanya saya ketika kami sudah duduk di ruang tamu rumahnya. Wipa menjawab, ”Lumayan. Ini baru pertama kali saya pegang kamera bang, hehehe…”

Sebelum kami melihat bersama-sama foto monitoring, saya mengajukan pertanyaan kepada Wipa, “Gimana Wipa, coba ceritain apa aja yang kamu liat tadi ?” Wipa menjawab, ”Liat WC ! Ada yang sudah bagus WCnya, ada juga yang belum bagus. Harusnya yang belum bagus itu dibagusin lagi.”

“Menurutmu, WC yang bagus itu yang kayak gimana ?” tanyaku lagi. Tanpa berpikir panjang, dia menjawab sambil tersenyum, “Yang bagus itu yang kayak punya saya, dibelakang itu.  Ada atap, tutup WC, pintu, dinding, air, sama pembersih, hehehee.”

Sampai sekarang -2 tahun WC dibangun- WC tersebut masih utuh dan terawat karena memang digunakan dan rajin dibersihkan. Menurut Wipa, setiap rumah harus memiliki WC agar orang tidak BABS, sekaligus mencegah penyakit. “Bangun WC supaya ga buang air sembarangan lagi. Untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, supaya tidak diare,” kata Wipa.

Saya bertanya lagi, “Memangnya kenapa WC harus punya atap, dinding, pintu, air, sama penutup WC?”

“Kalo atap, ya kalo lagi make WC terus hujan turun, ya susah, hahaaa. Kalo dinding, kalo kita lagi BAB trus ada orang yang lihat kan malu. Kalo pintu, buat tutup juga biar ga malu. Kalo air, buat kita siram. Tutup WC biar ga bau  WCnya,” jelas Wipa sore itu.

Saya jadi tahu kriteria WC ramah anak. Dan saya juga jadi tahu pendapat anak tentang program yang kami lakukan di desa. Monitoring bersama Wipa kali ini membuka wawasan saya tentang bagaimana cara meningkatkan peran aktif anak dalam program pengembangan

 

Karya Marcell Sinay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s