Sepenggal Kisah STBM di Dusun 2 Desa Baho_Dominiria Hulu dan Marcell F.A.M. Sinay*

21 Maret 2012. Perjalanan ke Desa Baho, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara kali ini adalah bermaksud untuk monitoring hasil pemicuan stop BABS yang telah dilakukan. Sebelumnya, pemicuan stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di dusun 2 Desa Baho dilaksanakan pada tanggal 16 September 2011, sebagai bagian dari lokakarya dan Training of Trainer (ToT) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kabupaten Nias Utara.

Pemicuan di dusun 2 Desa Baho bertempat di halaman rumah Bapak Samanudin Harefa, yang dilaksanakan oleh 10 fasilitator peserta ToT STBM yang terdiri dari perwakilan SKPD, tenaga medis puskesmas, kader posyandu, dan staff Dinas Kesehatan Nias Utara. Hasilnya, sebanyak 23 kk terpicu dan berkomitmen untuk membangun WC sederhana. Yang menarik dari kegiatan pemicuan stop BABS di desa Baho ini adalah, setelah pemicuan selesai, masyarakat menyepakati penunjukkan 3 orang koordinator desa yang bertugas untuk memastikan pelaksanaan komitmen yang sudah ada.

Radieli Harefa, 44, adalah salah satu dari 3 koordinator tersebut. Kebetulan, Radieli ikut dalam ToT STBM pada September 2011 yang lalu. Menurut Radieli, ada tantangan dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan dan membangun WC. “Ada yang bilang ke saya, ‘mengapa kamu susah-susah mensosialisasikan ini? Apakah ada bantuan WC?,” kata Radieli, menceritakan pengalamannya ditanyai oleh tetangganya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Radieli berkata sederhana, “Selama saya pelatihan tidak ada dikatakan akan dikasih WC, jadi dibangun sendiri sesuai kemampuan saja, sesuai dengan kesadaran saja. Kalau kita tahu lingkungan yang kotor akan membawa penyakit, maka kita perhatikan kebersihan itu. Tergantung kita semua itu, jangan menunggu diberi saja. Buat saja yang sederhana sesuai kemampuan,” tegasnya kepada orang-orang yang mengharapkan bantuan tersebut.

Juniaro Harefa, 33, salah satu keluarga yang terpicu mengatakan “No fa’ateroro dodo wamazokhi WC (sudah menjadi sebuah keinginan hati untuk membuat WC) untuk menjaga kesehatan lingkungan, menjaga kesehatan anak, tidak sembarangan membuang kotoran. Karena kalau sembarangan lalat hinggap dan akan ke makanan anak-anak, itu jadi penyakit. Agar hal tersebut tidak terjadi kami semangat membangun WC, agar terjaga kesehatan anak sebagai generasi penerus,” kata Juniaro.

Ternyata kesederhanaan ekonomi tidak membuat semangat mereka jadi nol untuk membangun WC sederhana. WC sederhana yang telah dibangun juga bervariasi: ada yang terbuat dari semen, papan, atap seng, atap rumbia, batang pohon kelapa, dan juga karung semen. Intinya adalah sesuai kemampuan sendiri. “Bukan kerugian, tapi kemajuan. Sekalipun uang keluar, tapi itu menjadi kemajuan untuk kesehatan di masa yang akan datang,” tutur Juniaro lebih lanjut. Pemikiran Juniaro Harefa juga sama dengan salah satu tetangganya di dusun 2, Aberakhi Harefa. Keluarga Aberakhi termasuk salah satu keluarga yang terpicu dan telah membangun lokasi khusus di belakang rumahnya untuk BAB sehingga keluarganya tidak BABS lagi. “Tidak terganggu kesehatan dalam menghirup udara, tidak ada rasa jijik di sekitar rumah kita. Dulu kami juga suka malu kalau ada tamu datang lalu minta ke WC, kami tidak punya,” kata Aberakhi.

Elvis, anak Aberakhi juga menuturkan hal yang senada tentang dampak yang terasa. “Udara segar, dan tidak digigit nyamuk kalau sedang BAB,” kata Elvis, menambahkan pendapat ayahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s