Fitriadi Laoli, si Fasilitator Cilik _ Dominiria Hulu dan Portunatas B. Tamba*

Fitriadi Laoli, si Fasilitator Cilik

Dominiria Hulu dan Portunatas B. Tamba*

Fitriadi Laoli, 15, adalah anak pertama dari 3 bersaudara dari desa Ehosakhozi, Kecamatan Hilisrangkai, Kabupaten Nias. Bulan Maret 2012 yang lalu, Fitri bersama dengan 78 perwakilan anak dari seluruh desa dampingan mengikuti kegiatan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Gunungsitoli, Nias.

“Waktu mengikuti pelatihan itu saya merasa senang dan bahagia sekali, ada banyak teman baru, kerja sama yang baik dalam kelompok dan juga pengajarannya yang sungguh menarik. Ketika itu, kami diajarkan mengenai PHBS, kebersihan dan rasa sayang terhadap bumi dan alam,” lanjut Fitri.

Pengalaman menarik yang disukai Fitri saat mengikuti pelatihan adalah materi tentang pengelolaan sampah. Sampah harus dikumpulkan dan dipisah antara yang organik dan non-organik. Yang organik biasanya dia kumpul dan dijadikan pupuk. Sedangkan yang non organik dikumpulkan terpisah menurut jenisnya seperti plastik, kaca, kaleng atau logam untuk diproses selanjutnya.

Ayah Fitri, Sofulala Laoli, 45, mengatakan sangat heran melihat Fitri sejak kembali dari pelatihan, karena setiap hari ketika membersihkan rumah dan halaman rumahnya, Fitri selalu memisah-misah sampah. Fitri kemudian menjelaskan bahwa sampah organik harus dikumpul dan bisa dijadikan pupuk, sedangkan yang non-organik harus diolah lagi atau dikubur di lahan yang tidak dimanfaatkan untuk pertanian karena sampah non organik ini sangat lama busuk jadi bisa merusak tanah. 

“Kami bangga, karena dia memulai hal yang baik terutama di keluarga. Kalau sebelumnya sampah-sampah itu dibiarkan berserakan disamping rumah kalau sekarang dia ambil, dipilah-pilah dan rumah dan lingkungan jadi kelihatan bersih,” ujar Sofulala.

Fitri juga membagikan ilmu yang telah didapatnya kepada anak-anak Sekolah Minggu (SM) di gerejanya. “Anak-anak mengikuti dengan semangat dan senang ketika saya ceritakan dan memberi contoh tentang cara mencuci tangan dan mengorek kuping yang baik. Kegiatan biasanya diiringi dengan tawa, karena belum terbiasa bagi anak-anak di desa. Tetapi mereka mengikuti dengan baik,” kata Fitri, senang.

Ketika bercerita tentang suka dan duka menjadi fasilitator cilik, Fitri mengungkapkan bahwa hal yang membuat dia bahagia yakni ketika orang yang mendengar sosialisasi yang ia berikan, lalu orang tersebut mengikuti, dan mempraktikkannya. Sedangkan dukanya adalah ketika ada orang yang mengejek bahkan mengatakan dia pemulung, padahal apa yang disarankannya berguna demi peningkatan kesehatan.

Bahkan Fitri bersedia membagi ilmu pengetahuan tentang PHBS jika pemerintahan desa/sekolah/WVI menfasilitasi dia untuk melakukan sosialisasi ke tempat lain. Karena dengan sosialisasi dan memberi contoh, biasanya orang akan melakukan, sehingga akhirnya kesehatan pribadi dan lingkungan terjadi. “Sebenarnya tidak susah kalau sudah terbiasa, tapi kalau tidak biasa sepertinya canggung juga, jadi harus didengar dan dipraktekkan untuk menjadi kebiasaan,” ungkap Fitri dengan penuh semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s