3 Pelajaran Hidup dari Heza’aro Waruwu

Inspirasi untuk mengangkat sosok Heza’aro Waruwu dalam tulisan ini muncul setelah saya beberapa kali melakukan monitoring ke Desa Ononamolo 1, Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias Barat. Di desa ini, pada tahun anggaran 2011 kemarin Wahana Visi Kantor Operasional Nias telah memfasilitasi WC sederhana di 11 titik lokasi, dimana sebanyak 55 KK dengan jumlah total 202 anak menikmati hasil swadaya pembangunan WC tersebut. Dan salah satu titik lokasi WC yang dibangun adalah di belakang rumah Heza’aro Waruwu ini.

Heza’aro Waruwu (Ama Salina) adalah salah satu penduduk Desa Ononamolo 1 Mandrehe Utara yang ikut mengerjakan pembangunan WC sederhana saat itu.  Dalam beberapa kali kunjungan ke desa yang berjarak 45 kilometer dari Kantor Wahana Visi Operasional Nias ini, saya hanya sempat bertemu 2 kali dengan Ama Salina. Namun, 2 pertemuan itu sudah cukup untuk memberikan kesan yang mendalam kepada saya.

Dari pertemuan dan perbincangan kami, setidaknya ada 3 hal yang saya pelajari dari sosok Ama Salina:

1.  Inisiatif.

Proses pengerjaan WC sederhana di titik di belakang rumah Ama Salina tidak berlangsung selancar dan secepat perencanaan awal. Permasalahannya adalah beberapa keluarga sekitar yang menjadi kelompok untuk pengerjaan WC di titik tersebut punya kesibukan masing-masing, sehingga pengerjaan WC sempat terlantar beberapa waktu. Dalam situasi itu, Ama Salina tidak tinggal diam. Berdua dengan istrinya, mereka mengerjakan apa yang mereka bisa kerjakan saat itu, tanpa menunggu dulu anggota kelompok yang lain. “Saya mengisi waktu sementara (anggota dari kelompok) yang lain belum sempat mengerjakan,” katanya singkat.

2.  Memiliki visi.

Visi, bahasa sederhananya adalah ‘mimpi’, atau bisa juga ‘cita-cita’. Saya yakin, inilah yang mendasari Ama Salina untuk berjuang menyelesaikan pengerjaan WC; karena dia memiliki ‘cita-cita’ yang ingin diwujudkannya, yaitu agar keluarganya bisa menggunakan WC ini. Itulah juga yang dikatakannya ketika saya menanyakan kenapa dia mau repot-repot mengerjakan pembangunan WC. “Biar keluarga dan tetangga sekitar bisa memakai itu juga, tidak perlu sembarangan lagi ke hutan di belakang (untuk buang air),” jawab Ama Salina, singkat.

3.  Keluar dari ‘zona nyaman’.

Ini adalah yang menurut saya paling luar biasa dari sosok Ama Salina.

Ama Salina ikut mengerjakan WC sederhana di titik lokasi di belakang rumahnya. Dalam prosesnya, dia melakukan hal-hal seperti menumbuk semen dan memotong kayu. Sekilas, itu adalah hal yang biasa dilakukan dan bukan merupakan masalah. Tetapi, tahukah Anda berapa usia Ama Salina ? Usianya bukan 30-an, 50-an, atau bahkan 70-an.

Dia berusia 90 tahun !

Ya, seperti mayoritas orang pada rentang usianya, Ama Salina sudah ‘mempunyai’ beberapa keterbatasan fisik, contohnya penglihatan dan pendengarannya yang sudah tidak tajam lagi. Badannya sudah membungkuk, langkah kakinya sudah sangat pelan, dan keseimbangannya juga sudah mulai berkurang.

Namun, dengan segala keterbatasan itu, dia tidak menghabiskan waktu sehari-harinya dengan ‘nyaman-nyaman saja’ seperti berdiam diri, duduk-duduk atau tidur-tiduran. Dengan tubuhnya yang bungkuk, dia merapihkan dinding dan lantai WC. Dengan tangannya yang gemetaran, dia memegang tali untuk mengikat simpul kayu karena sudah tidak kuat menggunakan paku dan palu untuk menyatukan kayu tersebut. Dan dengan tenaga yang seadanya, dia terus menumbuk semen dan menyusun kayu sebagai dinding WCnya kelak.

Akhirnya, setelah lebih dari 3 bulan pengerjaan (Juli-Oktober 2011), WC di titik tersebut bisa terselesaikan. Sekarang, Ama Salina dan keluarga –termasuk keluarga di sekitar rumahnya yang ikut membantu mengerjakan WC ini- bisa menikmati buah dari hasil usaha mereka.

~~~

(1) Inisiatif; (2) Memiliki visi; dan (3) Keluar dari ‘zona nyaman’.

Tiga hal tersebut bisa membawa perubahan positif bagi kita, orang-orang sekitar kita, hingga lingkungan tempat kita berada.

Dengan segala keterbatasannya, Ama Salina, 90 tahun -orang paling tua di Desa Ononamolo 1 Mandrehe Utara- telah melakukan ketiganya secara tulus untuk kepentingan bersama.

Bagaimana dengan kita ?

Oleh: Marcell F.A.M. Sinay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s