Keadaan Desa Dahana Tabaloho dan Desa Onolimburaya

nah, ni dia beberapa hal berkaitan dengan tempat penelitianku…

Penelitian tentang sengketa tanah dan prosedur penyelesaiannya dilaksanakan di dua desa yang berbeda di Kabupaten Nias, yakni desa Dahana Tabaloho dan Desa Onolimbu Raya.

Desa Dahana Tabaloho

a. Sejarah Desa

Desa Dahana Tabaloho berada di Kecamatan Gunungsitoli, dibawah naungan Pemerintahan Kota Gunungsitoli. Desa Dahana terdiri dari dua dusun. Sejarah Desa Dahana tidak terlepas dari sejarah terbentuknya kota Gunungsitoli, karena awal pembentukan desa ini menjadi penyebaran terbentuknya Kota Gunungsitoli yang didirikan oleh tiga tokoh atau Sitölu Tua yakni Harefa, Telaumbanua dan Zebua. Tiga tokoh tersebut yang akhirnya menjadi marga bagi keturunannya.

Sebelum terbentuk desa Dahana, masyarakat Nias pada awalnya menempati daerah Gomo Sihaya-haya, setelah daerah tersebut semakin padat maka tua Harefa melakukan perluasan wilayah. Awalnya beliau berhenti di Desa Onozitoli kecamatan Gidö lalu pindah ke Hilimbelu Tabaloho dan terakhir yakni di Desa Dahana Tabaloho. Sewaktu tua Harefa tiba di Desa Dahana, awalnya desa ini merupakan hutan belantara yang memiliki banyak pohon dengan dahan dan rantingnya yang berjumlah banyak. Diantara tanaman-tanaman yang ada di hutan tersebut terdapat satu pohon yang sangat besar dan subur yang memiliki keunikan ranting. Maka tua Harefa memotong salah satu ranting pohon yang indah itu. Karena keunikan ranting-ranting dari dahan pohon tersebut maka tua Harefa yang memiliki gelar Tuada Laowo tersebut menamakan tempat tersebut Desa Dahana Tabaloho yang memiliki makna kesuburan dan kebersamaan.

Desa Dahana yang didirikan oleh Tuada Laowo merupakan pemukiman tertua disekitar daerah Gunungsitoli yang mempunyai peninggalan sejarah masa lalu yang unik dengan berbagai benda budaya yang bersejarah berupa sepasang Batu Megalith (Gowe) yang tingginya kira-kira 3 m serta adanya rumah adat yang tingginya sekitar 25 m, namun sayang rumah adat tersebut telah punah dimakan usia, termasuk batu-batu bersejarah lainnya.

Pendirian Gowe dalam budaya Nias dilakukan melalui proses yang cukup lama dengan biaya yang sangat besar, sehingga hanya dilaksanakan oleh keluarga yang memiliki harta yang banyak dan didukung oleh keluarga besar atau sitenga bö’ö. Mayarakat Desa Dahana mengenal Tuada Laowo sebagai salah satu keturunan Harefa, yang merupakan pendiri Öri adat di Desa Dahana, yaitu suatu kumpulan masyarakat dalam suatu hukum adat yang lebih kecil yang disebut banua atau kampung adat.

Untuk mendirikan sebuah banua terlebih satu Öri diperlukan adanya kesepakatan melalui musyawarah dan mufakat para tokoh masyarakat banua dan masyarakat Öri yang akan bersama-sama mendukung pengadaan biaya/bahan yang diperlukan untuk melakukan suatu pesta besar untuk meresmikan pendirian banua/Öri tersebut. Sebagai pemimpin, harus mampu mempertahankan bahkan meningkatkan banua tersebut dan melakukan berkali-kali pesta besar. Setelah melakukan pesta besar maka kepadanya diberikan nama kebesaran Balugu.

Selain Owasa dia juga harus mampu mendirikan rumah adat besar sebagai tempat kediamannya sekaligus sebagai tempat pertemuan. Untuk meresmikan rumah adat maka dilaksanakan pesta besar yang dihadiri oleh banua, Öri dan undangan lainnya termasuk balugu yang ada disekitar ori tersebut. Jadi, dalam mendirikan sebuah batu megalith atau gowe terlebih dahulu harus melakukan owasa, mendirikan rumah adat, menjadi pemimpin kesatuan adat baik ditingkat banua, maupun tingkat Öri sehingga pendirian atau Fanaru’ö Gowe terwujud setelah terpenuhinya syarat-syarat tersebut diatas. Gowe biasanya didirikan berpasangan, yaitu kelamin jantan dan betina atau simatua ba si’alawe yang diletakkan di depan rumah adat.

Gowe yang didirikan di Desa Dahana didatangkan dari lokasi yang jauh. Gowe Simatua didatangkan dari Sarang Baung (Kecamatan Sawö, ±65 km dari Desa Dahana), sedangkan Gowe Si’alawe didatangkan dari Desa Ononamölö (Kecamatan Botomuzöi, ±35 km dari Desa Dahana. Dalam pendirian Gowe tersebut harus dilengkapi juga dengan perlengkapan lainnya berupa binu. Setelah memperoleh  binu sebanyak 3 maka kepala binu tersebut ditanam dibawah dasar kedua tugu, sebagai penambah kekuatan tegaknya Gowe tersebut.

Desa Dahana Tabaloho  berada di kecamatan Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara. Jarak dari desa ke kecamatan sekitar 3 Km. Adapun batas-batas Desa Dahana sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tumöri
  • Selatan berbatasan dengan Desa Madula
  • Sebelah Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sisobahili dan Desa Dahadanö Sogawu-gawu
    • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Orahili Tumöri dan Desa Madula

b. Keadaan Alam Desa Dahana

Keadaan alamnya yakni dataran dan berbukit dengan ketinggian dari laut sekitar 25 m dengan luas keseluruhan ± 300 Ha. Desa Dahana dikelilingi oleh hutan dan perpohonan yang masih dijaga keasriannya dengan baik oleh penduduk desa. Pada umumnya penduduk menanam cokelat, karet, pisang, ubi kayu, ubi jalar dan tanaman lainnya yang berfungsi sebagai bumbu masakan. Adapun ternak yang dipelihara, seperti  babi, ayam, anjing, dan kambing.

Musim hujan rata-rata suhu udara 4 ºC dan pada masa kemarau suhu udara 23 ºC. Jika dulu penduduk dapat memperkirakan saat terjadinya kemarau maupun hujan baik dilihat dari  bulan dan tanggal, tapi sejak terjadinya pemanasan (global warming) cuaca sangat tidak menentu. Hal ini memberikan pengaruh besar terhadap hasil pertanian penduduk. Terlebih bagi penduduk yang  jenis usahanya karet dan cokelat.

c. Kependudukan

Masyarakat di desa Dahana kebanyakan keturunan suku Nias, sedangkan pendatang yakni suku Batak. Penggunaan bahasa daerah sangatlah kental di desa ini, ini terlihat dengan kegiatan musyawarah dan perkumpulan-perkumpulan yang lebih memproritaskan bahasa daerah Nias. Penggunaan bahasa Indonesia hanya dalam hal pengajaran.

Jumlah penduduk di Desa Dahana dibagi atas 2 dusun yakni dusun I yakni  228 jiwa dan dusun II 568 jiwa. Jadi jumlah keseluruhannya yakni 796 jiwa dengan jumlah kepala keluarga dusun I yakni 46 kk dan dusun II yakni 108 kk. Adapun jumlah penduduk lebih didominasi perempuan daripada laki-laki dengan jumlah perempuan pada dusun I yakni 124 jiwa dengan jumlah laki-laki 106 jiwa dan dusun II jumlah perempuan yakni  293  jiwa dengan jumlah laki-laki 275 jiwa.

Distribusi penduduk berdasarkan umur yakni, 0-11 bulan 8 orang, 11-36 bulan 44 orang, 36-60 bulan 36 orang, 5-12 tahun 161 orang, 12-14 tahun 44 orang, 14-20 tahun 98 orang, 20-35  tahun 184 orang,  35-39 tahun 42 orang, 39-49 tahun 100 orang, 49-60 tahun 46 orang, dan 60 tahun  21 orang.

Masyarakat Desa Dahana Tabaloho mayoritas menganut agama Kristen Protestan dan secara minoritas agama Katolik juga ada. Perbandingannya dimana Agama Kristen Protestan  berjumlah 773 orang dan agama Katolik yakni 23 orang. Adapun kegiatan ibadah yang dilakukan misalnya acara Paskah, Natal dan kegiatan Persekutuan Doa. Pemuda-pemudi juga sangat antusias melakukan kegiatan-kegiatan seperti koor, vokal group dan adanya berbagai perlombaan-perlombaan menjelang upacara keagamaan. Adapun nama gereja yang ada di desa Dahana yakni Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Angowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN), dan Gereja Bethel Indonesia (GBI). Untuk masyarakat yang beragama Katolik mereka mengikuti misa kudus di Gerja Santa Maria  Bunda Para Bangsa.

d. Mata Pencaharian

Sistem mata pencaharian masyarakat pada umumnya yakni petani. Ada juga yang berprofesi sebagai Pegawai Negri Sipil, Pegawai Swasta, Wiraswasta dan Buruh dan dalam bidang pendidikan, terdapat sebanyak 796 orang dengan perincian pendidikan sebagai berikut; SD sebanyak 200 orang, SMP sebanyak 127 orang, SLTA sebanyak 208, Akademi sebanyak 37 orang, Perguruan Tinggi sebanyak 44 orang, Tidak Sekolah/Belum Sekolah sebanyak 175 orang, dan paket B sebanyak 5 orang.

e. Sarana Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan penunjang bagi aktivitas penduduk di desa Dahana, berikut ini merupakan sarana dan prasarana yang sangat penting yakni:

1. Transportasi dan Komunikasi; sarana transportasi yang digunakan untuk menuju Desa Dahana yakni Roda  dua dan Roda empat, masyarakat juga menggunakan sarana komunikasi berupa handphone.

2.Fasilitas Kesehatan; Fasilitas Kesehatan yang disediakan di Desa Dahana dapat dibagi dalam 2 kategori yakni

  1. Pelayanan Kesehatan : Pustu sebanyak 1 unit, Polindes sebanyak1 unit, Praktek Bidan Swasta sebanyak 2 unit dan Posyandu sebanyak 1 unit

b. Tenaga Kesehatan, terdiri dari; Bidan  sebanyak 6 orang,  Perawat sebanyak 10 orang, Tenaga    Non Kesehatan sebanyak 10 orang, Kader Kesehatan sebanyak 10 orang

3. Fasilitas umum; adapun fasilitas umum yang ada yakni Balai Desa. Balai desa ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan kegiatan-kegiatan desa lainnya seperti tempat pelaksanaan kegiatan PKK, perlombaan-perlombaan dalam rangka memajukan minat masyarakat di desa Dahana baik dalam hal olahraga, kesenian dan lain-lain.

4. Fasilitas Ibadah, terdiri dari 3 unit yakni yakni Banua Niha Keriso Protestan, Gowuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN), dan Gereja Bethel Indonesia (GBI).

5. Fasilitas Pendidikan merupakan hal yang penting dalam menunjang sumber daya manusia yang handal. Desa Dahana Tabaloho merupakan satu desa yang sangat menjunjung tinggi nilai pendidikan . Ini terlihat dari antusias orangtua dalam menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya diberikan kepada anak-anak yang tidak cacat secara fisik namun yang fisiknya kurang beruntung (cacat) juga mendapat tempat di desa ini. Ini terlihat dengan adanya salah satu sekolah dasar luar biasa (SDLB) yang merupakan sekolah luar biasa satu-satunya di Nias. Selain Sekolah Dasar, Taman Kanak-kanak juga ada di desa Dahana ini.

6. Fasilitas Keamanan merupakan hal yang diutamakan di desa Dahana, setiap orang yang datang ke Desa Dahana akan merasakan kenyamanan luar biasa. Hal ini dikarenakan sambutan hangat dan bersahabat dari setiap masyarakat yang ada di desa tersebut karena kenyamanan tersebut didukung dengan adanya sistem keamanan keliling atau siskamling di desa ini.

7. Fasilitas Olahraga.; Masyarakat di Desa Dahana memiliki fasilitas olahraga, seperti lapangan bulutangkis, tenis meja dan bola voli. Kegiatan-kegiatan olahraga diwaktu sore hari sering kita temui, dan ketiga kegiatan olahraga di atas sangatlah favorit dikalangan pemuda di desa tersebut.

Desa Onolimburaya

a. Sejarah Desa

Desa Onolimburaya berada di Kecamatan Mandrehe Barat, Kabupaten Nias Barat. Sebelum  adanya desa Onolimburaya, penduduknya berdomisili di desa Lahagu kecamatan Mandrehe Utara. Akan tetapi karena jauh dari kota Kecamatan yang jaraknya 12 km kemudian kurangnya fasilitas jalan dan fasilitas lainnya maka penetua adat mencari lokasi yang strategis dengan kota Kecamatan dan akhirnya dibentuklah desa Onolimburaya yang berada dekat dengan kota Kecamatan Mandrehe.

Nama Onolimbu karena pertama kali kepala desa yang dipilih dari daerah Onolimbu sedangkan kata Raya merupakan letak lokasi yang berada di Raya. Desa Onolimburaya diresmikan pada tanggal 13 agustus 1913, di rumah Ama Zilöbörö Hia Balugu Farokha sebagai pejabat Tuhenöri Ama Ngaebewagö Gulö Lölö Mboi Moro’o.

Desa Onolimbu Raya berbatasan dengan;

  • Sebelah utara berbatasan dengan Sisarahili dan Lasara Bagawu
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Iraono Gambö dan kecamatan Sirombu
  • Sebelah timur berbatasan dengan Sisobahili
  • Sebelah barat berbatasan dengan Lautan/Laut Nias.

Keadaan geografis desa Onolimburaya ketinggiannya dari permukaan laut yakni 300 meter dengan luas keseluruhan 300 ha, dan keadaan alam yang berbukit serta dataran yang  banyak batu atau disebut tanah lempeng batu. Marga-marga yang ada di Desa Onolimburaya terdiri dari Daely, Hia, Gulö, Waruwu, Marulafau, Ziliwu, Halawa, Laia, Ndruru, Zega, Zai dan Zebua.

b. Kependudukan

Desa Onolimburaya terdiri dari empat dusun dengan jumlah kepala keluarga yakni 950 kepala keluarga di mana jumlah laki-laki laki-laki lebih dominan daripada perempuan dengan jumlah laki-laki sebanyak 520 jiwa, perempuan sebanyak 409 jiwa. Adapun jenis pekerjaan yang mereka laksanakan yakni mayoritas bertani, berternak, nelayan dan sebagai guru. Hasil pertanian berupa kelapa, karet, cokelat, pinang dan padi dengan rata-rata penghasilan kira-kira Rp.200.000/bulan.

c. Sarana Prasarana

Sarana dan prasarana yang bisa kita jumpai yakni sarana pendidikan berupa SD sedangkan untuk mengecap pendidikan SMP, SMA, SLTA, hingga Perguruan Tinggi mereka ke  Kecamatan/Kabupaten Nias atau merantau di luar daerah Nias. Sarana ibadah sebanyak 5 diantaranya 2 gereja ONKP (Orahua Niha Keriso Protestan), 1 gereja Katolik dan 1 gereja BNKP (Banua Niha Keriso Protestan). Sedangkan sarana olehraga terdiri dari lapangan sepakbola  dan bola voli. Sarana kesehatan hanya terdapat satu yakni Posyandu. Kegiatan desa semakin diperkuat dengan adanya kegiatan ibu-ibu PKK dan adanya gotongroyong yang masih kuat berlaku di desa ini misalnya dalam membangun rumah, jalan, membagi hasil panen dan sebagainya. Desa Onolimburaya merupakan salah satu desa percontohan di Kecamatan Mandrehe sebagai apresiasi dari pemerintah Kabupaten Nias melihat kebersamaan dan kekompakan yang masih terjalin pada masyarakat desa Onolimburaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s