Arti Tanah pada Masyarakat Nias

Arti Tanah pada Masyarakat Nias

Tanah merupakan pemberian dari Tuhan yang mana setiap orang di dunia ini memiliki bagian masing-masing baik dalam struktur sosial, organisasi atau dalam kehidupan bermasyarakat. Tanah juga menyediakan makanan dan bahan-bahan lainnya untuk bertahan hidup, dari tanah segala kebutuhan manusia dapat berjalan dengan lancar.  Memiliki tanah yang banyak akan menjadi salah satu tolak ukur kekayaan yang kemudian dengan sendirinya membuat orang tersebut menjadi terpandang. Umumnya orang yang mempunyai tanah yang luas disebut tuan tanah atau sokhötanö dan biasanya ia memiliki beberapa pekerja

Ada beberapa alasan begitu pentingnya tanah dalam kehidupan masyarakat Nias yakni:

Tanah sebagai identitas

Tanah dalam bahasa daerah Nias disebut Tanö atau Danö hal ini semakin dipertegas  dengan adanya lambang Kabupaten Nias yang bertuliskan Tanö Niha yang merupakan identitas yang tidak terlepas pada masyarakat Nias. Tulisan Tano Niha yang terdapat dilambang kabupaten adalah nama resmi Kabupaten Nias dalam bahasa daerah Nias.

Tanö Niha banua somasido, Tanö si tumbu ya’o wöna.. Hemukoli ndrao ba zaröu, balö olifudo sa’ia… .Tanö si Tumbu do, mohili ba ebolo ndraso.. so nungoni tanö ba mbombo wasui asi sebolo… tanah Nias tanah yang kucinta, tanah kebanggaanku… dimanapun aku berada, tidak akan terlupakan… tanah kelahiranku, berbukit dan sangat luas…tanah yang berada ditengah lautan yang sangat luas)

Lirik lagu di atas merupakan lagu daerah masyarakat Nias yang berjudul Tanö Niha yang selalu dinyanyikan pada acara-acara kebesaran misalnya acara peresmian, pesta Ya’ahowu dan sebagainya. Lirik lagu tersebut juga mengisyaratkan secara nyata begitu dekatnya serta sangat berharganya nilai tanah dipandang sebagai identitas yang mempersatukan dan memberikan kekuasaan pada masyarakat Nias. Lirik lagu ini juga menandakan hubungan emosional dari masyarakat Nias untuk tetap menjaga dan mempertahankan kepemilikan tanahnya dari gangguan masyarakat luar yang belum sah secara adat menjadi penduduk di Nias. Lambang dan slogan Kabupaten Nias serta Lagu kebangsaan masyarakat Nias telah mengungkapkan tanah sebagai identitas pada masyarakat Nias yang secara turun temurun telah diwariskan dan dipertahankan.

Tanah sebagai Kekuasaan

Tanah sebagai kekuasaan terungkap dari sistem kekerabatan masyarakat Nias yang digariskan menurut garis keturunan laki-laki atau berdasarkan marga, selain itu tanah sebagai kekuasaan mempererat hubungan kekeluargaan atau talifusö pada masyarakat Nias. Tanah sebagai kekuasaan terungkap dengan pendirian rumah adat dan pendirian kampung atau banua sebagai kekuasaan tanah marga

Masyarakat Nias dahulunya dalam memperoleh kekuasaan atas sebidang tanah, haruslah mengadakan kegiatan pesta adat atau owasa yang bertujuan untuk meneguhkan kekuasaannya terhadap tanah tempat tinggalnya. Peneguhan tersebut akan dihadiri penetua/petinggi adat dan akan mensyahkan batas kekuasaan berupa luas tanah dari yang mendirikan rumah tersebut, biasanya yang melaksanakan kegiatan adat ini yakni orang-orang  yang telah memiliki kekuasaan dan ingin memperluas daerah kekuasaanya. Setelah disyahkan maka orang tersebut akan diberi julukan Balugu. Kemudian Balugu inilah yang akan mewariskan tanah miliknya yang sangat luas kepada anak-anaknya sebagai penerus daerah kekuasaanya.

Adapun bentuk rumah adat pada masyarakat Nias terdiri dari dua yakni:

a. Bagian utara : bentuknya oval (lonjong) dan atapnya dari rumbia

b. Bagian selatan: bentuknya persegi panjang berpetak

Tanah sebagai Laju Perekonomian Masyarakat Nias

Tanah sebagai lahan perekonomian terlihat jelas dari beberapa kegunaan tanah yakni sebagai lahan pertanian dan perkebunan yang  produktif seperti menanam tanaman durian, kelapa, padi, pisang, cokelat, karet dan tanaman-tanaman palawija. Selain itu tanah juga dijadikan sebagai tempat usaha, misalnya sebagai tempat industri skala besar maupun rumahtangga, sebagai pasar tempat terjadinya transaksi penjualan hasil-hasil usaha masyarakat dibidang pertanian dan sebagainya, selain itu digunakan sebagai tempat usaha peternakan babi, kambing, kerbau, ayam dan ternak unggas lainnya.

Usaha pertokoan juga menjadi suatu cara pemanfaatan tanah tidak hanya bagi masyarakat Nias namun masyarakat lain seperti orang Tionghoa dengan usaha-usaha dibidang elektronik/bahan-bahan bangunan serta suku Minang dengan usaha rumah makan, toko pakaian dan sebagainya. Tanah juga bisa dijual sebagai modal usaha serta sebagai modal pendidikan untuk melanjutkan sekolah. Biasanya, tanah digadaikan atau dijual agar kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi.

Tanah Digunakan sebagai Laju Pembangunan

Perkembangan suatu daerah ditunjang dengan adanya pembangunan yang menggunakan banyak tanah, misalnya:

1. Pembangunan lokasi pariwisata atau tempat rekreasi.

Pembangunan lokasi pariwisata menggunakan tanah masyarakat menjadi prioritas pemerintah Kabupaten Nias, mengingat Nias merupakan lokasi wisata yang memiliki banyak kekayaan alam maupun wisata sejarah, contohnya; wisata alam pantai Lagundri dan Sorakhe di Nias Selatan, wisata alam Pantai Bunda di daerah Fodo, wisata alam Pantai Sirombu, wisata sejarah megalit di Desa Dahana dan wisata sejarah Tögi Nifo di Sirombu dan objek wisata lainnya. Pembangunan lokasi pariwisata tentunya membawa dampak ekonomis terhadap daerah maupun masyarakat yang berada disekitar objek wisata.

Kebutuhan tanah akan perkembangan lokasi paeriwisata tentunya sebagian menggunakan tanah masyarakat, baik yang diberikan secara percuma oleh masyarakat maupun yang diberikan berdasarkan perjanjian penggunaan. Misalnya, objek wisata megalith yang dalam penggunaanya harus dipelihara dan dirawat dengan baik.

2. Terjadinya gempa 28 Maret 2005 telah membawa pengaruh signifikan terhadap penggunaan tanah sebagai lokasi pembangunan yang tidak terelakkan. Tanah tersebut menjadi lahan komoditi yang diperjualbelikan kepada pihak luar untuk pembangunan dan hal ini telah membawa dampak adanya lahan kosong yang selama ini menjadi tanah yang tidak berfungsi menjadi lahan produktif, hal ini ditandai dengan adanya kegiatan-kegiatan pengembangan usaha pertanian dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat berupa  program livelihood[1] misalnya tempat peternakan, bibit cokelat, pembangunan jalan, pembangunan gedung perkantoran dan sekolah-sekolah serta  program rekonstruksi pembangunan rumah pengungsi.


[1] Program-program dalam bidang pertanian misalnya sebagai lahan pembibitan coklat, tanah percontohan dan sebagainya

2 thoughts on “Arti Tanah pada Masyarakat Nias

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s