Team…

View on Path

Iklan

Catatan kecil Sang Langit (part2)

Aku belum bertemu kamu, ya kamu…
Tapi kamu telah berhasil membuatku mengucap syukur dan menyebut namamu dalam doaku…

Aku juga ga tahu kamu, ya kamu…
Tapi kamu berhasil membuatku mengerti akan kisah lalu yang harus dilupakan 100%..

Aku juga bingung tentang kamu, ya kamu…
Saat aku merasakan hangatnya mentari di Langit Medan, aku tersenyum… bahkan berulang kali melihat dan mendalami setiap kata yg terucap dalam pertemanan kita…

Aku tak tahu kamu, ya tak tahu…
Tapi aku kan berusaha mengenal kamu…
Sudah cukup membelenggu hati yang beku…
Sudah cukup menjauhkan diri dan mencoba tidak egois pada keinginan sendiri..

Aaaaa…sang Langit begitu cerah…
Setelah ku melewati kotaku yg muram dalam ketertutupan hatiku selama ini…

#berPuisiLagi #masihdiLangityang sama #Medan-Jkt #catatan sangLangit ke dua..
#dariHatiyangTakberhenti bersyukur…

View on Path

niasku….

Aku terlahir disini …sekolah disini, dan akhirnya berkarya disini… di sebuah lembaga social. Yayasan Wahana Visi Indonesia. Aku menjadi orang yang sangat beruntung bisa bergabung di Yayasan ini. Bersama WVI, setidaknya aku sudah menjalani 3 kabupaten di Pulau Nias. Yakni Nias, Nias Utara dan Nias Barat. Ke-3 wilayah tersebut memberikan sedikitnya banyak makna dalam perjalanan karyaku. Bagaimana mirisnya kehidupan anak-anak Nias dan bagaimana mereka bahagia menjalani hidup di desa. Jauh dari kota, akses listrik yang tidak ada, membantu orangtua menderes karet, menjaga adik, tidak sekolah, makan seadanya. Yah, inilah potret Niasku…. Masih jauh dari kesempurnaan, namun sedang berproses menuju kesempurnaan bersama. Berharap, Niasku 15-20 tahun mendatang penuh kejutan yang baik, bukan kejutan yang buruk. Seperti yang terjadi di kota saat ini…. Pengendara belia (anak sekolahan, yang baru belajar) banyak yang menjadi sasaran empuk jalan kasar di Nias, belum lagi maraknya seks bebas, dan hal buruk lainnya…. *sungguh tragis…. Inilah tugas kita, orangtua-saudara-pemerintah-LSM… bergandengan tangan membangun Nias yang memiliki khas positif baik hidup kawula muda maupun orangtua.

Beberapa Hal yang Diperlukan dalam Penyelesaian Sengketa Secara Musyawarah Adat

Penyelesaian sengketa tanah secara adat pada masyarakat Nias sejak dahulu hingga sekarang masih menggunakan daging babi mentah dan daging babi yang telah dimasak serta menyediakan beras. Jumlah daging babi yang disediakan sesuai dengan kemampuan dari pihak yang melaporkan sengketa dan juga kesepakatan dari penetua adat. Daging babi yang telah dimasak dan beras (yang telah dimasak) digunakan sebagai jamuan makan saat acara berlangsung.

Sedangkan, daging babi yang mentah digunakan setelah selesai kegiatan musyawarah sebagai simbol ucapan terimakasih dari pihak yang bersengketa terhadap tokoh agama, tokoh adat, saksi dan masyarakat yang datang. Pembagian daging babi mentah sesuai dengan tingkatan kekuasan orang-orang yang hadir pada saat penyelesaian sengketa (sebagai siteoli, tokoh agama/bangsawan, dan peran lain seperti saksi dan mediator)..

Selain daging babi, minuman khas Nias juga turut disediakan yakni Tuo atau tuak, bisa juga dengan minuman lainnya. Sedangkan kepala desa dalam hal ini selain menerima daging babi, pihak yang bersengketa juga memberikan hua meza  salawa atau uang administrasi. Uang administrasi tersebut diserahkan setelah selesai acara musyawarah adat, ini nantinya akan dipergunakan oleh kepala desa sebagai pengganti dari biaya-biaya pengurusan rapat dan beberapa hal lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan musyawarah adat Hal lainnya yang disediakan oleh pihak yang bersengketa yakni memberikan uang kepada saksi yang disebut töngö-töngö, untuk besar uang yang diberikan terserah dari pihak yang bersengketa artinya tidak ada patokan secara adat.

Peranan Lembaga Adat Nias dalam Penyelesaian Segketa Tanah

Permasalahan sengketa biasanya disampaikan terlebih dahulu kepada kepala desa yang juga merupakan bagian dari lembaga adat Nias (memiliki kedudukan yang hampir sama dengan Siteoli. Peranan kepala desa dalam hal ini yakni:

a. Menerima informasi dari yang bersengketa, informasi yang diterima berupa kronologis dari kejadian yang ada

b. Kemudian menindaklanjuti dengan memanggil kedua pihak yang bersengketa, mediator beserta seluruh pengurus desa, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat.

d. Membuat surat keputusan penyelesaian sengketa dengan ditandatangani kedua belah pihak dan saksi. Saksi dalam hal ini yakni yang berbatasan dengan tanah yang dipersengketakan, tokoh agama, tokoh adat dan diketahui oleh kepala desa.

Setelah kita mengetahui peran dari Kepala Desa, maka  peranan Lembaga Adat Nias (Siteoli, tokoh adat/agama) yakni:

1. Menerima informasi yang bersengketa dari Kepala Desa. Informasi yang diperoleh dari kepala desa yakni awal terjadinya permasalahan dan hal-hal yang berkaitan dengan laporan dari masing-masing yang bersengketa.

2. Mempertimbangkan permasalahan tersebut apakah layak dimusyawarahkan secara adat atau secara kekeluargaan

3. Membuat keputusan terhadap proses musyawarah adat yang terjadi dimana penyelesaian sengketa tanah tersebut tanpa memihak salah satu yang bersengketa tapi berdasarkan kronologis sengketa yang terjadi.

Peranan Lembaga Adat Nias (Siteoli, tokoh adat/agama) dan Kepala Desa pada kehidupan masyarakat Nias telah banyak membantu terhadap adanya keadilan dalam penyelesaian sengketa tanah yang terjadi baik permasalahan desa maupun permasalahan  individual/masyarakat desa. Kedua lembaga ini yang berperan sebagai mediator bertindak sebagai fasilitator sehingga pertukaran informasi dapat dilaksanakan serta dituntut untuk bersikap bijaksana, dapat dipercaya, dan cekatan. Artinya, sebagai mediator harus bersifat netral atau tidak memihak satu dengan yang lain sehingga proses penyelesaian sengketa tanah dapat dilaksanakan secara lancar dan tanpa menyimpan dendam terhadap yang menjadi mediator, jika permasalahan tersebut selesai.